Aji Yulianto
Aku bukan manusia yg cukup tegar untuk menghadapi kenyataan seperti ini...

Sering kali... aku merasa gk berharga sebagai manusia utuh. Karena terkadang setiap detik perjuangan, setiap pengorbanan yg aku berikan seperti tak dianggap olehnya. Sedih rasanya..
Rasanya sejak awal tahun aku merasakan kesedihan ini. Tapi tetap bulat tekadku, berarti sebuah janji buatku sendiri.

Entah berapa kali aku bener2 menangis, mengeluarkan air mata. Haha, aku sendiri heran, aku pikir aku pria tangguh yg selalu siap dengan keadaan.. Aku gk tau sampai kapan aku akan memendam perasaan ini, berat memang rasanya.
Setiap tangisan, aku selalu berharap itu menjadi yg terakhir.

Tanggal 27 hari ini, aku terbangun pukul 5 pagi, pagi itu anak2 mau beres2 in ruangan tamu.
Terbangun... dan merenung... entah berapa kali pagi aku lewati dgn seperti ini...
Mengingat segalanya, semakin menusuk.... dan terasa sangat sakit... Menangis lagii..
Entah itu sebuah firasat ato apa, setelah aku merasa puas meluapkan semuanya, aku beranjak segera ambil air wudhu, aku laksanakan sholat Subuh. Setiap kali dlm doaku sehabis sholat, aku panjatkan untuk kedua orang tuaku yg telah pergi jauh, kepada keluargaku, teman2ku, dan Lia...
Doa yg aku panjatkan intinya hanyalah semoga Tuhan memberikan kebahagiaan,dan segala yg terbaik untuk orang2 yang aku cintai.

Kemudian aku berangkat ke tempat kerjaan, ikut bantu yang lainnya. Aku gk melihat Lia. Selang 10 menit kemudian aku melihatnya berlari di luar, berlari krn terlambat ikut membantu temannya. Dengan pakaian rapi dia datang, aku langsung berpikiran "pasti dia semalam baruuuu.." Ternyata benar duagaanku, ooohhh...
Kenapa aku nangis duluan sih, gk nangis setelah kejadian ini aja.? ahahaha.. lu kata sinetron.?
Well,.. hadapi saja, uda sering kok. Seperti biasa sbg sahabat yg baik aku menjadi pendengar setianya..

Dibalik kesedihan ini, terkadang aku merasa berhasil mengalihkan dr rasa ini, seolah2 aku tak merasa asakit. Aku merajut, mendengarkan musik, bercanda dgn teman2 yg lain, apapun yg bisa membuat aku mrs senang. Tapi tetap saja, aku gk akan pernah bisa memungkiri kesedihan ini.

Aku manusia... perjalananku masih panjang... aku tak mau terus menerus berlarut dalam kesedihan. Aku percaya, Tuhan punya rencana yg baik di balik semua ini.
Aku manusia... Aku petik segala hikmah dan pelajaran di balik segala peristiwa...
Aku manusia... Berusah kuat dan tabah...
Aji Yulianto
Untuk pertama kalinya.. aku merasakan faliin in love yg seeeedalam-dalamnya..
Aku gk pernah maksa, aku gk pernah tau, semua persaan ini datang sendiri. And who`s the girl.?
She is Lia Wiliyanti.

Setelah lebaran 2008, dia masuk sebagai anak baru di tempat kerjaku. Awal pertemuan rasanya biasa aja. Seiring waktu berjalan, entah apa yg terjadi aku dan Lia menjadi sahabat dekat. Entahlah, mungkin ahtiku yg memang sedang kosong, kesepian... aku merasakn "virus" itu merasuki jantungku.
Sebagai sahabat tentunya aku siap menjadi pendengar setia, apapun yg dia keluhkan, apapun yg dia inginkan, aku siap mendengar. Awal2 aku menjalin persahabatan, dia gk pernah cerita kalo dia uda punya cowok. Dan aku baru tau saat rasa itu mulai mengembang, dan semakin mengembang.
Seringnya dia cerita mengenai masalahnya dengan keksaihnya, aku siap membantu. Di saat2 seperti itulah, aku mulai bingung.. aku mesti gimana?
Semakin hari, semakin aku kenal cowoknya.. Dan semakin aku sadar, aku gk perlu berambisi lagi untuk mendapatkan Lia. Karena aku tau, aku gk lebih baik gk lebih sempurna dr lelaki pilihannya saat ini.
Aku berpikir, aku sahabatnya.. aku pasti akan buat dia kecewa kalo aku ungkapin semuanya.
Karena itulah, tekadku hanya satu.. membuat dia senang, bahagia, memberikan kebahagaiaan yg tulus sbg teman.
Suatu saat, dia memintaku untuk dibuatkan crosstitch. Dengan senang hati aku akan membuatkannya. Dengan ketulusan, kesabaran, dan cinta...
Tak perduli lelah, tak perduli waktu, tak perduli..
Sebuah lambang Cinta yg terinspirasi dr sebuah program reality show.
Kenapa lambang itu.? Apa maknanya? that `s my expression.. Sebuah mimpi.. Mimpi untuk menjalin sebuah hubungan yg tak terputuskan untuk selamanya.

Awalnya aku menawarkan kpd Lia, "gimana ntar aku kasih tulis nama cowok kamu sama kamu ya.?"
Dia menolak.. "nnnggg.. jangan akh, nama kamu aja, mendingan gk usah kalo ada nama dia."
Okeeeee... Aku setuju banget, aku seneng..
Memang saat itu, dan sebenernya mungkin sering Lia mengalami masalah dengan cwoknya.
Sejujurnya, mencintai Lia aku gk pernah yakin kalo aku bisa mendapatkannya. Terlihat dr sikap dia yg kadang.. mmmm.. Terlebih ya itu, balik lagi dia uda pny cowok.
Mungkin aku uda gila. Tapi, aku tetap jalani tekadku.

Seringnya aku merasa sakit, capek hati mendengar cerita soal cowoknya, dan bahkan aku uda sering menemani si pria itu ketika dia berkunjung menemui Lia.

Aku bener2 gk tau mesti gimana.. Aku uda coba berkali kali , mencoba dan mencoba untuk coba berhenti mencintai Lia. Aku tau perjalananku masih panjang, kenapa gk "udalah tinggalin aja, cari yg laen". Damn.....!! perasaan ini tetep gk bisa dibohongi. Belajar jadi munafik..? gk bisa cooooy... gk lulus aku....
Tekadku untuk memberikan yg terbaik, kebahagiaan, semakin kuat ketika aku tersadar bahwa sebagian sikap Lia... kurang baik, walaupun masih dalam batas kewajaran.
Ketika sendiri, merenung.. perasaan sakit itu sangat terasa.. sakit.. dan sangat sakit.. Aku bukannya menjadi orang yg cengeng, tapi semua ini hanyalah sebuah ekspressi, luapan.
Bukankah menangis dan berdoa lebih baik dari pada kita menyesali sesuatu dengan marah2 ato banting ini itu. And i feelin better...
Aji Yulianto

PDF Print E-mail
Wednesday, 22 April 2009


utama_slamet.jpgMembaca email pagi ini sempat kaget oleh email dari teman di mailinglist yang mengabarakan bahwa beliaunya ditelfon dari beberapa keluarga tentang meningkatnya aktifitas gunung Slamet terutama di sisi Ajibarang dan sekitarnya. Gunung slamet yang terlihat indah dari belakang rumah saya sekarang mulai menampakkan aktifitasnya. Kadang memang terlintas di pikiran saya gunung berapi yang masih aktif ini pada suatu saat pasti akan melakukan aktifitas alamnya, tinggal menunggu waktu dan entah kapan. Foto di sebelah saya ambil sekitar satu tahun yang lalu, April 2008 di Kembaran, Banyumas.

Dari mailinglist di cantumkan berita dari media-media utama yang tercantum di bawah ini:

TVOne

Badan Geologi Tingkatkan Status Gunung Slamet

21 Apr 2009 19:16:41

Bandung, (tvOne)

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG), Badan Geologi meningkatkan status G. Slamet, Provinsi Jawa Tengah menjadi Waspada terhitung mulai hari ini (21/4) sejak pukul 12:00 WIB. Peningkatan status ini terkait dengan meningkatnya temperatur air panas di Pandansari dan Pasepuhan.

Kepala PVG, Surono mengatakan, kondisi G. Slamet hari ini terekam secara menerus Gempa Tremor Vulkanik, dengan amplituda maksimum berkisar antara 0.5 –10 mm dan pengamatan visual terlihat asap putih tipis dengan tinggi ± 50 – 300 m. Selain itu lanjut Beliau, temperatur air panas di Pandansari dan Pasepuhan mengalami peningkatan dari hari ke hari hingga hari ini tercatat di Pandansari ± 45,7 °C dan di Pasepuhan ± 63 °C. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik G. Slamet, lanjutnya.

Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Slamet dan kami tetap berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (BPBD Provinsi dan dan Satlak PB) setempat. Apabila aktivitas G. Slamet kembali menurun atau meningkat, maka status G.Slamet dapat diturunkan atau dinaikan kembali sesuai dengan tingkat kegiatannya.

Kepala Pusat meminta kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan kegiatan pendakian serta menggunakan masker penutup hidung dan mulut jika terjadi hujan abu lebat untuk menghindari terjadinya gangguan pernafasan.

Suara Merdeka

21/04/2009 17:38 wib - Daerah Aktual- Cybernews

Aktivitas Vulkanik Gunung Slamet Meningkat

Bandung, CyberNews. Aktivitas vulkanik Gunung Api Slamet (3432 mdpl) menunjukan peningkatan. Sejak pukul 12.00 Selasa (21/4), gunung api yang terletak di lima wilayah kabupaten di Jateng itu dinaikan statusnya satu tingkat, dari semula aktif normal menjadi waspada.

Kepala Bidang Penyelidikan dan Pengawasan Gunung Api PVMBG, M Hendrasto menyatakan kenaikan itu dilandasi oleh empat parameter, baik yang direkam oleh alat seismograf maupun secara visual. Indikasi yang terekam dinilai di luar kebiasaan dan perlu mendapat perhatian.

Di antaranya frekuensi gempa permukaan yang cenderung terus meningkat. Pada Minggu lalu, gempa permukaan hanya tercatat 49 kali kejadian. Tapi sehari kemudian, jumlahnya dapat mencapai 97 kali kejadian.

Hal yang sama terjadi pada aktivitas gempa tremor, yang menandakan terjadinya pergerakan magma menuju permukaan. Kemarin pagi, amplitudo tremor maksimal berkisar antara 0,5-10 mm sempat terekam. Dari arah puncak, hembusan asap yang biasanya berbentuk tipis juga mulai menunjukan perubahan.

"Selasa pagi, asap putih tebal kecoklatan keluar dari kawah dengan ketinggian mencapai 300 meter. Selepas pukul 8.00 Wib, pengamatan secara visual tak bisa dilakukan karena tubuh gunung terhalang kabut," katanya saat dihubungi Selasa. Indikasi lain adalah suhu air panas di sekitar gunung api. Dua lokasi yang dijadikan tempat pengukuran yakni di sekitar Pemandian Guci, Slawi-Tegal menunjukan peningkatan suhu.

Pada pukul 10.30 kemarin, suhu air di Pandansari mencapai 45,7 derajat celcius sementara di Pasepuhan lebih panas lagi sekitar 63 derajat celcius. Jumat lalu, suhu di Pandasari hanya sekitar 42,2 derajat celcius dan Pasepuhan sekitar 61,6 derajat celcius. "Suhu normal di Pasepuhan sekitar 59 derajat."

Semenjak dinaikan statusnya, PVMBG terus melakukan pemantauan secara intensif. Mereka juga terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat. "Belum ada rekomendasi pengungsian. Masyarakat juga jangan terpancing isu tidak bertanggung jawab atas aktivitas Slamet," katanya.

Kepada masyarakat, dia meminta agar tidak mendekati puncak Slamet. Kawasan itu dinyatakan tertutup bagi aktivitas masyarakat. Warga juga diingatkan agar menyiapkan masker untuk menghindari dampak hujan abu lebat yang sewaktu-waktu dapat dimuntahkan oleh Slamet. "Jika terjadi hujan abu lebat, masyarakat sebaiknya menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi gangguan saluran pernapasan," tandasnya.

Gunung Api Slamet yang merupakan gunung api berbentuk kerucut, secara administratif masuk ke dalam 5 wilayah Kabupaten yaitu Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Purbalingga.

(Setiady Dwi /CN05)

*goleti.com

Aji Yulianto

PDF Print E-mail
Tuesday, 21 April 2009
Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – wafat di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Biografi
Ayah Kartini, R.M. Sosroningrat. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.
Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Makam R.A. Kartini di Bulu, Rembang.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Surat-surat
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru, dengan pembagian buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.
Pemikiran
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Buku
Habis Gelap Terbitlah Terang
Sampul buku versi Armijn Pane.
Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara.
Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi.
Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.
Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.
Buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini yang ada pada Door Duisternis Tot Licht. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.
Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.
Panggil Aku Kartini Saja
Sampul Panggil Aku Kartini Saja.
Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.
Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
Akhir tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang Kartini lewat buku Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya. Gambaran sebelumnya lebih banyak dibentuk dari kumpulan surat yang ditulis untuk Abendanon, diterbitkan dalam Door Duisternis Tot Licht.
Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi. Dalam kumpulan itu, surat-surat Kartini selalu dipotong bagian awal dan akhir. Padahal, bagian itu menunjukkan kemesraan Kartini kepada Abendanon. Banyak hal lain yang dimunculkan kembali oleh Sulastin Sutrisno.
Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903
Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
"Aku Mau ..." adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.
Kontroversi
Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.
Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.
Sumber : Wikipedia

*goleti.com
Aji Yulianto
Purwokerto Tambah Maju atau Semrawut? PDF Print E-mail
Sunday, 19 April 2009

purwokerto_kota_main_street.jpgMinggu lalu pas long weekend liburan ke Victoria sempat ketemuan teman yang sedang kuliah Master program dan mampir ke tempat tinggalnya beberapa jam. Gak taunya dimana dia tinggal ada teman yang berasal dari Gumelar yang juga sedang menyelesaikan program Master Degree-nya di Univ. of Melbourne, wah tanpa basa basi langsung ngomong ngapak ngapak lah. Beliaunya lebih tahu banyak tentang apa yang terjadi di Purwokerto karena memang bekerja di Kota Satria yang Indah ini. Ngapak ngapaknya ngalor ngidul tapi pas lagi ada temen lain yang gak ngerti basa Indonesia atau ngapak langsung deh beringgrwish ria. Tapi disini intinya bukan Melbourne atau program S2 yang sedang diambil teman teman saya. Melainkan perkembangan kota Purwokerto yang tambah semrawut ujar teman saya ini.

Dari perbincangan dengan teman dengan ngapak ngapak di Melbourne ini pasti lah membicarakan tentang kota Purwokerto. Purwokerto tambah ramai, buat sebagian kalangan menyenangkan karena banyak ramai dan 'maju'. Bertambahnya ruko ruko dan bangunan bangunan bisnis yang memang berita baik karena segi ekonomi otomatis juga meningkat, dan perdagangan juga tambah ramai. Bisa dilihat dari bertambah banyaknya pedagan kaki lima di hampir semua sudut di Purwokerto kata teman saya. "Wah Wan, siki Purwokerto tambah rame neng pedagan kaki lima. Neng ndi ora ana baen." Trus saya bilang:" Ya apik, tambah rame lan tambah sumringah sirkulasi ekonomine."

Iya bener, tapi dadi tambah semrawut ujar teman saya. Tata kota yang seharusnya sudah indah dan rapi, tapi berhubung hampir di semua trotar banyak kaki lima jadi serasa di pasar dimana mana. Teman saya menceritakan betapa semrawut dan susah diaturnya pengusaha dagang kecil di sekitar RS Margono yang mana seharusnya pasien membutuhkan ketenangan malah serasa di terminal. Malah beberapa masuk ke kamar pasien dan menawarkan dagangannya ke pasien langsung. Sudah sempat di larang dan ditertibkan, tapi ada saja cara mereka menjajakan ke pasien dengan berpura pura menjadi pengunjung yang membawa makanan untuk yang dikunjungi tapi malah menawarkan dagangan dalam buntelan tas kresek. Hah?!

Memang banyak sekali dilema yang dihadapi, pedagang kaki lima adalah cuman salah satu dari jutaan dilema yang ada di nusantara. Disisi lain kita ingin kota kita rapi dan enak untuk jalan jalan dan tidak ingin seperti Jakarta yang sudah ancur dan berantakan dengan kaki lima dan premannya. Kita tidak ingin seperti itu kan, meskipun dengan skala lebih kecil. Tapi disisi lain, kita tidak bisa memberikan solusi buat pedagang-pedagang itu jika mereka ditertibkan. Betul, karena mereka tidak ada pilihan untuk pekerjaan lain mungkin. Atau sebenarnya ada tapi tidak mau bekerja lebih keras lagi? Parahnya lagi, pedagang-pedagang itu kebanyakan berasal dari luar kota dan luar Jawa bahkan! Jadi, kalau kalau kita berfikir pedagang itu merupakan kemajuan ekonomi bagi Purwokerto atau bahkan kesemrawutan buat kota Satria ini??

*goleti.com
Aji Yulianto

14 April 2009

To see him back on the field we will have to wait till the beginning of the next season. In the meantime Momo Sissoko was at Vinovo to say hello to his team-mates.

35 days after the operation to the left foot and after some time spent in France – in Capbreton under the eyes of Professor Puig – the Franco-Mali player returned to Turin for a few days. He spoke of his conditions to Juventus Channel: «My foot is better and I am well. I can walk without crutches and hope to be on the field by the end of the season for the World Cup qualifiers with my national team».

Momo, therefore, continues with his recovery which is going well. However, it is not easy for him to see his mates on the field: «I have been out for more then a month. Life is like that but now what interests me is healing as best I can and be the usual Sissoko. Being out is never easy and I followed the progress of my team-mates. They are going through a particular moment but I am sure they will be back and have a great end to the season confirming the second place».

juventus.com

Aji Yulianto

14 April 2009

Juventus continue their preparation for the match against Inter on schedule for Saturday night at the Turin Olimpico. The bianconero had a morning training session under the keen eyes of Sports Director Alessio Secco and Momo Sissoko who returned to Vinovo after the treatment period spent in Capbreton in France.

The player from Mali and Hasan Salihamidzic, who was operated on last week, were the only two players who did not take part in today’s session. Ranieri could thus count on a practically entire squad. The bianconeri took part in individual technical exercises with control exercises combined with running and therefore concentrated on ball possession.

Amauri stayed with the group up to the 11-a-side mini-match. The Brazilian then worked alone on the field till the end of the session.


juventus.com

Aji Yulianto
The legendary striker could be rested by his coach, according to the latest reports from Turin...

14 Apr 2009 12:01:38

Claudio Ranieri and Alessandro Del Piero - Juventus (PA)
Photo Gallery
Zoom

Juventus captain Alessandro Del Piero could face the prospect of being benched for the Scudetto showdown with Inter this weekend.

La Gazzetta Dello Sport claims the Italian legend could be left out by coach Claudio Ranieri following this week's early training sessions. The reports suggests Vincenzo Iaquinta and David Trezeguet are favourites to start up front against Jose Mourinho's men. Del Piero lined up against Iago during this morning's mini match, leading to speculation that there is no place for him this weekend.

Amauri is unlikely to make the starting XI either as he is not in the best physical condition. Ranieri continued to put his men through their paces at Vinovo. Gianluigi Buffon decided to train separately from the rest, but he is not in any risk of missing out.

Mauro Camoranesi and Claudio Marchisio are both suspended for the Inter rumble. Tiago and Chritstian Poulsen are likely to take their places alongside Marco Marchionni and Pavel Nedved.

Juve are 10 points behind the league leaders heading into Saturday night's game. Anything less that a win will see their Scudetto hopes go up in smoke.

Salvatore Landolina, Goal.com
Aji Yulianto
The former Liverpool man is worried about seeing his side crumble further, and he has stepped in to offer guidance...

14 Apr 2009 14:22:00

Momo Sissoko - Juventus-Milan - Serie A (Grazia Neri)
Photo Gallery
Zoom

Juventus midfielder Mohamed Sissoko is urging his team-mates to use extra caution and keep a tight grip on second place in Serie A.

With prospects of a Scudetto win looking extremely bleak, the Bianconeri need to focus on keeping hold of the automatic Champions League place. Juventus are winless in their last two matches and have seen Milan close the gap to just two points. Sissoko, who is recovering from a foot operation, believes it's a case of looking behind rather than in front.

"I have been following what has been happening recently with the team," Sissoko told Juventus Channel.

"They are going through a particular moment. However, I am sure that they will pick themselves up to finish the season in second place."

The Mali international is likely to be out of action until the end of term, but he admits his recovery is progressing well.

"Everything is getting better, I am fine now," added the powerhouse.

"I can walk without the need of crutches and I hope to be back soon so I can play in the World Cup qualifiers with my country."

Salvatore Landolina, Goal.com
Aji Yulianto

Tuesday 14 April, 2009

Juventus and Inter are reportedly vying for the signature of Genoa striking star Diego Milito.

Milito joined Genoa for a second spell after agreeing a move from Real Zaragoza last summer.

And the Argentine proved to be an inspired piece of business as he found the net 16 times before suffering a thigh injury.

Inter have made their interest in Milito known, but they may face a bidding war with Juventus.

La Gazzetta dello Sport claims that the Old Lady are planning to use the full rights to Raffaele Palladino, who is co-owned by Genoa, as a bargaining chip to try and outdo Inter.

Defender Domenico Criscito, who is on loan at Marassi, may also be included in the deal.

Genoa President Enrico Preziosi insists that he doesn't want to sell The Prince, but he admits that he may be forced to as he cannot compete with the giants financially.

channel4


Aji Yulianto
Los Merengues are ready to make a last-gasp dash for Diego and out-muscle Juventus...

14 Apr 2009 13:20:01

UEFA-Cup: Werder Bremen - Udinese, Diego (firo)
Photo Gallery
Zoom

Real Madrid are ready to make a move for Werder Bremen ace Diego and ruin Juventus' plans for him in the process.

The Bianconeri are keen on the Brazilian play-maker and they are preparing to meet with the player's agents in order to thrash out a deal. Sportmediaset.it claims Diego's entourage are expected to meet with Bianconeri chiefs within the next week. A four-year deal worth €4million per season is being mooted.

However, the plans to land Diego could be scuppered by Spanish giants Real Madrid. The report implies Los Merengues are prepared to play a high stakes game and out-bid the Italians in an attempt to get their noses in front.

Werder are asking €25 million for their man. Juventus are not prepared to go beyond that amount, but Real are. It's here where the deal becomes complicated as the Germans are likely to accept the higher proposition coming from Spain.

In Juve's favour is the decision which ultimately rests with Diego. Voices surrounding the deal suggest the player has a penchant for the Old Lady, but Alessio Secco's refusal to match Madrid may cost Juve.

Salvatore Landolina, Goal.com
Aji Yulianto
Tuttosport is calling for Claudio Ranieri's head following the defeat to Genoa, and want coach Gian Piero Gasperini to replace him.

13 Apr 2009 20:54:04

Gian Piero Gasperini è il tecnico dell'ottimo Genoa - Serie A (Grazia Neri)
Photo Gallery
Zoom

It has been clear for a while now that Turin-based newspaper Tuttosport does not have a high opinion of Juventus coach Claudio Ranieri. They have been criticising his work throughout the season, and the team's two most recent results, a 3-3 draw against Chievo at home, and a 3-2 defeat to Genoa, have only made things worse.

The day before the match against Genoa, they had criticised the coach for saying that the team's season was 'extraordinary', as Tuttosport feel that despite all of the problems that have followed Calciopoli, Juventus should never be satisfied with second place. "Juve are more than this," said the paper's front-page headline.

The day after the defeat to the Grifoni, which practically handed Inter the Scudetto on a silver platter, their headline was "Juve to Gasperini," suggesting Genoa coach Gian Piero Gasperini as a successor for Ranieri.

Having brought a sparkling brand of football to the Marassi stadium, which has allowed Genoa to maintain their fourth place in the table, Gasperini is seen by many as the ideal new Juventus coach. He also has some coaching experience with Juve's youth teams.

Most likely the team's final position will influence the club's decision on Ranieri. Maintaining second place seems mandatory for the coach's position, as finishing third would not be an improvement on last season. Currently they are only two points ahead of third-placed Milan, and ten behind Inter.

Danilo Pochini, Goal.com

Aji Yulianto
There could be some major changes in Turin this summer as the Lupi’s head coach could take charge of the Old Lady...

14 Apr 2009 09:43:37

Claudio Ranieri, Juventus (Foto Grazia Neri)
Photo Gallery
Zoom

Luciano Spalletti is favourite to come in and replace Juventus coach Claudio Ranieri if he is kicked out of Vinovo this summer, according to a report.

Sportmediaset.it claims the doom and gloom for the former Chelsea man will not get any better. The report suggests directors at the club are beginning to have their doubts as to whether Ranieri is the man to lead them to silverware in the future and the Roma coach is in line to take over with the Bianconeri.

Juventus have gone another year without a major trophy. Their only hope of silverware this season is in the Coppa Italia, but they lost the first-leg of the semi-final 2-1 to Lazio. In any case, voices surrounding the Turin-based club seem convinced there will be wholesale changes on the bench.

Champions League failure and playing second fiddle to Inter are factors that have led the club to start thinking about next season. Giovanni Cobolli Gigli revealed Alessio Secco and Jean-Claude Blanc would be working to strengthen the squad within the next two weeks. Spalletti has not enjoyed a perfect season by any means at Roma, leading to speculation of a potential swap deal between the clubs.

Salvatore Landolina, Goal.com
Aji Yulianto

Tuesday 14 April, 2009

There are renewed reports that Milan are preparing a sensational swoop for Juventus ace Amauri.

The Rossoneri were keen to sign the Brazilian marksman when he was at Palermo, but Juve beat them to his signature.

Amauri has been a great success in Turin and has adapted impressively to life at one of the peninsula's giants.

Meanwhile, Milan have struggled and are expected to ring the changes this summer in a bid to rejuvenate their underachieving squad.

According to Tuttosport, the Diavolo are convinced that Amauri is the answer to their problems and have already discussed the player with Bianconeri officials.

Brazilian sporting director Leonardo is also said to have met with Amauri to try and persuade him to end his Juve adventure early.

However, it still seems extremely unlikely that Amauri will be willing to move and that Juve would sell him for anything less a fortune.

Furthermore, Milan Vice-President Adriano Galliani has warned Rossoneri fans not to expect huge spending this summer and doesn't seem to be planning to break the bank.

Channel4

Aji Yulianto

Monday 13 April, 2009

Inter goalkeeper Julio Cesar looks set to appear against Juventus next weekend after returning to training ahead of schedule.

The 29-year-old Brazil international missed Saturday's game with Palermo after pulling an abductor muscle in his right leg the weekend beforehand.

Veteran goalkeeper Francesco Toldo stepped in for him and did little to comfort Jose Mourinho, conceding two avoidable goals.

Cesar arrived at training this morning, though, and took part in a game of five-a-side in which he made a series of fine acrobatic saves.

The news comes as a boost to Inter, who can move 13 points clear at the top of Serie A by beating Juventus this weekend.

Cesar has been one of Inter's best performers this season and is now considered the No 1 goalkeeper in the world.

channel4
Aji Yulianto
The Czech defender is certain that his side can bounce back, even if the league title is now out of reach...

13 Apr 2009 15:51:48

Grygera - Juventus-Genoa Serie A (Grazia Neri)
Photo Gallery
Zoom

Juventus suffered a 3-2 defeat to Genoa on Saturday evening, practically ending their Scudetto hopes as they now trail Inter by ten points in the standings. However, Zdenek Grygera has insisted that Claudio Ranieri's men still have plenty to play for.

"It was really a pity we couldn't bring home any points. We must give our best from here to the finish line," the former Ajax player said to the Corriere dello Sport.

"There are still major commitments to be addressed, both in the championship where teams are chasing us and in the Coppa Italia, where we can reach the final."

Despite two disappointing results against Chievo and Genoa, the 28-year-old is certain his team can recover quickly. A necessity, since the Bianconeri take on league-leaders Inter next weekend in the Derby d'Italia.

"We are a group with great character and I am sure we can put the difficulties we have encountered in the last two matches behind us," he concluded.

Adam Scime, Goal.com
Aji Yulianto
The young defender has made it clear that he's not yet ready to move abroad and will stay in Amsterdam for a while longer...

13 Apr 2009 15:51:49

Gregory van der Wiel, Ajax (foto ANP)
Photo Gallery
Zoom

The Italian press recently linked talented Ajax defender Gregory van der Wiel with Italian giants Juventus. However, the 21-year-old has stated that he's not even considering leaving Ajax this summer and that a move to Juventus isn't an option at the moment.

"I've read the reports linking me with Juventus," Van der Wiel said to Goal.com. “The alleged interest is flattering, but it remains to be seen whether they're really interested in me. My agent hasn't spoken with Juventus yet.

"Nigel de Jong recently advised some Dutch internationals to move abroad at a young age, but not every player is ready for such a challenge at a young age.

"I'm not ready yet to leave Ajax and move abroad. Therefore, I'm not considering leaving the club this summer. Not even for a big team like Juventus."

The young defender has developed into an important first team player this campaign and has also impressed Holland boss Bert van Marwijk with his good performances. Van der Wiel made his official Holland debut in the friendly match against Tunisia.

Stefan Coerts, Goal.com


Aji Yulianto
The chief has stepped in to clarify confusion over the club's future plans...

13 Apr 2009 14:31:30

Giovanni Cobolli Gigli, chairman of Juventus (AFP)
Photo Gallery
Zoom

Juventus president Giovanni Cobolli Gigli has explained the reasons behind the meeting between Marcello Lippi and Jean-Claude Blanc, excluding the possibility of a Claudio Ranieri exit.

Reports in Tuttosport last week claimed that Blanc had met with the World Cup-winning coach, and speculation followed regarding Lippi's eventual return to the club. Gigli has explained why the meeting came about, in an attempt to play-down all the hype.

"I knew very well that there would be a meeting between Blanc and Lippi," Gigli told Sky Sport Italia.

"We just wanted to get Lippi's opinion, after all he is the Italy coach who manages our players both present and future.

"Knowing Lippi's opinion is always expedient and I think it's right for Blanc to meet with him every six months."

The Old Lady has been linked with a number of star players in the summer transfer window, but Gigli remains tight-lipped over who will be coming in.

" Blanc will meet with [Alessio] Secco in a few weeks and they will oversee a reinforcement operation," concluded the chief.

Salvatore Landolina, Goal.com

Aji Yulianto
The French hitman has declared his admiration for the club...

13 Apr 2009 14:09:39

David Trezeguet - Juventus - Serie A (Grazia Neri)
Photo Gallery
Zoom

Juventus hitman David Trezeguet insists he is honoured at playing for the club as he prepares for his tenth year in Turin.

The Frenchman has not enjoyed the best of season's this year as he was hampered with injury, and this was followed by minor squabbles with coach Claudio Ranieri. However, the former Monaco man has put his woes behind him as he displays his love for the club.

"It's a massive honour for me to be playing for Juventus," Trezeguet told Le Figaro.

"I am honoured belonging to the history of a club where other French champions like [Michel] Platini and [Zinedine] Zidane have played.

"This club is like a family for me and it's one of the few sides in Europe which has players who have been here for a good part of ten years."

Although Trezeguet has won domestic honours with Juventus, he is hoping to lift the Champions League trophy with them in the future.

"I miss winning the Champions League as I have already won two Scudetti and a top-scorers award with Juve," he concluded.

Salvatore Landolina, Goal.com
Aji Yulianto
Goal.com invites you to find out more about the hottest pre-season tournament around...

13 Apr 2009 09:11:24

peace cup andalucia logo
Photo Gallery
Zoom


Welcome to the Peace Cup 2009!

Summer is almost here in Andalucia, but that doesn't mean that football is finished. Coming up between July 24th and August 2nd 2009 is the Peace Cup 2009, the biggest and best pre-season competition featuring some of the world's biggest clubs.

As the name suggests, the object of the Peace Cup is to use football to advance the goal of world peace. Run by the Sunmoon Peace Football Foundation, past winners include Tottenham Hotspur and Olympique Lyonnais.

Previous editions of the Peace Cup have been held in Korea, but for the first time the competition is coming to Europe, with five stadiums in Andalucia and one in Madrid set to host matches that will delight both the Spanish public and the world at large. (We'll have more information about the venues and about Andalucia for you over the coming days.)

The international flavour of the tournament is very much alive, with twelve teams from nine countries taking part. In alphabetical order, these are:

Al-Ittihad (Saudi Arabia)
Aston Villa (England)
Celtic (Scotland)
Fenerbahce (Turkey)
Juventus (Italy)
LDU Quito (Ecuador)
Malaga CF (Spain)
Olympique Lyonnais (France)
FC Porto (Portugal)
Seongnam FC (Korea)
Sevilla CF (Spain)
Real Madrid (Spain)

The draw will be made this Thursday, April 16th, so you can find out the fate of your favourite team.

Also to look forward to this week:
  • Monday night press conference - getting ready for hosting, Malaga share their thoughts
  • A history of the Peace Cup, which played its first tournament in 2003
  • An in-depth look at both the teams and the stadiums involved this year in Andalucia
  • Timing is everything: why it matters that the Peace Cup takes place in the middle of a transfer window
So, in peace and sport, we invite you to share all the build-up and action for this tournament with us.

--Goal.com team
Aji Yulianto

6 April 2009


The disappointment for the draw against Chievo and the missed victory seconds from the end of the match is still very strong but the bianconeri will come to terms with it in the company of their families. The team, in fact, as per schedule has the day off today. The break is useful in order to re-charge the batteries and rest the muscles, many of which afre also suffering the fatigue undergone during the international matches of last week.

The team will get back to work tomorrow, when the medical staff will examine the condition of Salihamidzic and Grygera who were forced to leave the field during the match against Chievo. The group will train on Tuesday, Wednesday and Thursday morning while on Friday the session will be held in the afternoon before the departure to Genova where the bianconeri will be hosted by Gasperini’s rossoblu on Saturday.

After Camoranesi, De Ceglie and Marchisio the match against Chievo should also see the recovery of Legrottaglie and Zanetti who have been discharged by the medical staff but still in search of the best condition.

juventus.com
Aji Yulianto

6 April 2009


All of Italy is under shock following the terrible earthquake which hit the Abruzzo region especially the province of L’Aquila during the early hours of the day.

Juventus expressed its solidarity towards all the population and the many Juventus supporters especially the members of the Juventus Club Doc of the zone in question: Altoaterno di Montereale (L’Aquila), Sulmona, Maiella Bianconera (Chieti), Alba Adriatica (Teramo), Centro Italia (Rieti) and Offida (in the Marche region).

juventus.com
Aji Yulianto
Image
6 April 2009


Group A of the Primavera championship has come to a turning point. Juventus can begin its final sprint towards the first place which is important to obtain a front seat at the start of the play-offs.

The rivals of the bianconeri have left points behind them one team at a time. This is very much thanks to Genoa who continues to be the surprise of this last part of the season. After having won in Siena, the rossoblu drew in the derby against Sampdoria on Sunday morning.

This result together with the 4-1 obtained against Pisa has allowed Maddaloni’s team to maintain its leadership with a point more then Siena, two more then Samp, three more then Empoli and five more then Genoa. The margin may be increased further. On Thursday afternoon, at the Chisola, the bianconeri will play the postponed match against Piacenza. A victory against the emiliani who are currently second from last in the table, would allow Juventus to spend a great Easter and to face the last three matches before the end of the regular season in the best of conditions.

In order to prepare for this match, the team will return to work in the afternoon at the Juventus Center. The session will also see the participation of Yang Yun, the Chinese youngster on trial with the bianconeri and who yesterday saw the most awaited moment of his stay in Turin: his presence at the Stadio Olimpico to watch the match of the first team of which he is an avid supporter.

juventus.com
Aji Yulianto

Juventus’ Scudetto hopes were dashed after their failure to beat Chievo. Carlo Garganese blasts sporting director Alessio Secco’s transfer policy, and argues that some serious investment must be made to the Old Lady’s defence this summer...

6 Apr 2009 13:00:35

Olof Mellberg - Juventus (PA)
Photo Gallery
Zoom


“Once upon a time teams like Chievo came to Juventus to see how many goals they would concede. Today they come looking for victory,” roared a furious Mauro Camoranesi following yesterday’s 3-3 draw in Turin that has, barring a Biblical miracle, certainly ended the Bianconeri’s dreams of the Scudetto.

With Inter scraping a somewhat fortuitous 1-0 win at Udinese, the gap between the top two in Serie A is now nine points, with just eight games left to play. Aside from the head-to-head clash next weekend, Juventus also still have to go away to third placed Milan, and fourth positioned Genoa. All of Inter’s remaining fixtures are against teams just above or below mid-table, meaning that it is quite possible the Nerazzurri’s advantage will further increase by the end of the campaign.

Claudio Ranieri is putting on a typically brave face and refusing to concede the Scudetto, but the wise thing to do now is for Juventus to start planning for next season, and ensure they buy the right players to give them a realistic chance of ending Inter’s post-Calciopoli Scudetto stranglehold.

The area that needs serious reconstruction is the defence.

Juventus may have the second best defensive record in Serie A, they may also have returned from Real Madrid in the Champions League without conceding, but the simple truth is that a defence consisting of Zdenek Grygera, Olof Mellberg and Cristian Molinaro will not win you major honours. These are average players who “once upon a time” would not have even made the Bianconeri substitutes bench, let alone be regular starters. Yesterday afternoon all three were very disappointing, particularly Mellberg, who was at fault for Sergio Pellissier’s second and third goals.

There is plenty of talk in the press about Juventus looking to sign another attacker this summer, with Fabio Quagliarella, Sergio Floccari, and even David Villa mentioned. If this materialises, then the 'Calcio Comedy' about Alessio Secco being an Inter spy may actually be more than just a satire.

Since the summer of 2006, when Luciano Moggi departed, and numerous champions such as Cannavaro, Zambrotta, Thuram, Vieira and Ibrahimovic jumped ship, it is fair to say that Secco has only strengthened one Juventus first team position via the transfer market. The Bianconeri’s current strongest team consists of Buffon; Grygera, Legrottaglie, Chiellini, Molinaro; Camoranesi, Marchisio, Sissoko, Nedved/Giovinco; Del Piero, Amauri

During their 2006/07 Serie B campaign, with the exception of Grygera, Sissoko and Amauri, all of the above players were Juventus-owned. The Czech right back is no superior to a fully fit (physically and psychologically) Jonathan Zebina. Amauri has been a revelation, but Juventus were already formidable in attack, as has been proved in his absence over the past few weeks, with Juve scoring 11 goals in their last three games. The only signing over the last three years who has strengthened a position of the pitch has been Momo Sissoko.

This, in a nutshell, sums up what a disaster Secco has been. If it had not been for the old guard, and talented youngsters such as Chiellini, Marchisio, De Ceglie and Giovinco coming through, things could have been really ugly now. Consider just how good Juve could now be if they had nailed just one position in each of the last three years.

Secco and the transfer team will get a fourth chance to put things right this summer, and if they have any sense they will spend all their money on a full back, centre back and midfielder. Concentrating on the topic of this debate, if you compare Juventus’ defence to Inter’s, you realise what has been the difference between the two sides this season. Nerazzurri reserves, such as Maxwell and Ivan Cordoba, would make the Juve first team, while the regular backline of Maicon, Samuel, Chivu and Santon are on another planet altogether, not forgetting Javier Zanetti, who can also drop back. Only Giorgio Chiellini can stand up to these players, but he cannot do everything by himself, and even the great Gianluigi Buffon is not winning the "eight-to-ten points a season" he once was.

Inter have certainly ridden their luck this season, and they have also received a number of favourable decisions from officials but, despite their predictable and pedestrian midfield, one thing you can say is that they know how to defend a lead. Seven clean sheets in their last 11, including four on the bounce, is enough evidence of this. With 21 goals conceded, Inter have the best defensive record in Serie A by quite some distance, and all this despite Chivu and Samuel playing just 25 league games between them due to injuries. If Inter had come from behind to go 3-2 up against Chievo, there would have been no chance of them letting it slip in injury time.

What Juventus need to do this summer is crystal clear, but who would bet against Secco and Ranieri buying another forward?

What are your views on this topic? Do you agree that Juventus will never win anything with their current defence? Who do they need to buy this summer? Goal.com wants to know what YOU think…

Carlo Garganese, Goal.com
Aji Yulianto
Rumours in the peninsula suggest that Juve are tracking the Partenopei ace, but his representative has firmly rejected the speculation.

6 Apr 2009 10:49:15

Beckham-Mannini - Napoli-Milan Serie A (Grazia Neri)
Photo Gallery
Zoom

Italian media have reported this morning that Juventus have showed an interest in Napoli midfielder Daniele Mannini, and could launch a bid to secure his services in the summer.

The 25-year-old, who has also been associated with Inter in the past, joined Napoli from Brescia in January 2008 for a fee of around €6.5 million, and his agent Davide Lippi has insisted that his client has no intention of leaving Campania for the time being.

“I have a good rapport with Juve director of sport Alessio Secco,” the son of Italy coach Marcello Lippi told the Roma newspaper.

“If these rumours were true, he would have already called me. I think it’s just paper talk and Daniele loves it in Naples.”

Mannini was handed a one-year drug ban by the Court of Arbitration for Sport (CAS) last January for turning up late to a doping test, but returned to action against Milan a fortnight ago after the CAS decided to re-examine the case.

Vince Masiello, Goal.com
Aji Yulianto

Monday 6 April, 2009

Outspoken Juventus midfielder Mauro Camoranesi has launched a scathing attack against his teammates following their failure to beat Chievo on Sunday.

The Bianconeri drew 3-3 with the relegation threatened Gialloblu and are now nine points adrift of League leaders Inter.

“I am sorry, we have all said the same thing in the dressing room,” Camoranesi said. “The game was over, we did well to win it in the final minutes.”

Juventus had twice gone behind but went 3-2 up after 79 minutes through in form striker Vincenzo Iaquinta.

However, Sergio Pellissier, the talismanic Chievo attacker, grabbed an equaliser and completed his hat-trick in stoppage time to make the game 3-3.

“It's not like us. This 3-3 really hurts. We have lost two really important points,” Camoranesi lamented.

“Once upon a time teams like Chievo came to Juventus to see how many goals they would concede. Today they come looking for victory.

“We have to do something. This is something Juventus are not used to,” the 32-year-old former Hellas Verona player concluded.

channel4
Aji Yulianto

Monday 6 April, 2009

Juventus are hoping to extend their fanbase in Asia by giving a trial to the 20-year-old Shanghai Shenhua defender Yang Yun.

The Chinese youngster reportedly first came to the Bianconeri's attention during their Asia Pacific Tour last summer.

“He is not very well known even in China,” Oberto Petricca, his agent, admitted. “I have only seen him play a couple of games.

“This operation began with the tour Juventus went on last year,” Petricca explained. “Yun is not only valuable in a technical sense, I believe he represents the general synergy between the Bianconeri and Shanghai Shenhua.”

Juventus are believed to have entered into a feeder club arrangement with Shanghai Shenhua, the 2008 Chinese Super League runners up.

“Yun will make interest in Juventus grow in China, this boy will become a valid instrument of communication between the two countries,” Petricca added.

“It's important for Chinese footballers to get to know a more professional reality. Shanghai Shenhua are a dynamic club that already has links with Sydney United. They are open to links abroad,” Petricca concluded.

Other clubs in Europe have contracted Asian players to boost their presence in the region, most notably Manchester United with Dong Fangzhuo.

channel4