Aji Yulianto
Aku bukan manusia yg cukup tegar untuk menghadapi kenyataan seperti ini...

Sering kali... aku merasa gk berharga sebagai manusia utuh. Karena terkadang setiap detik perjuangan, setiap pengorbanan yg aku berikan seperti tak dianggap olehnya. Sedih rasanya..
Rasanya sejak awal tahun aku merasakan kesedihan ini. Tapi tetap bulat tekadku, berarti sebuah janji buatku sendiri.

Entah berapa kali aku bener2 menangis, mengeluarkan air mata. Haha, aku sendiri heran, aku pikir aku pria tangguh yg selalu siap dengan keadaan.. Aku gk tau sampai kapan aku akan memendam perasaan ini, berat memang rasanya.
Setiap tangisan, aku selalu berharap itu menjadi yg terakhir.

Tanggal 27 hari ini, aku terbangun pukul 5 pagi, pagi itu anak2 mau beres2 in ruangan tamu.
Terbangun... dan merenung... entah berapa kali pagi aku lewati dgn seperti ini...
Mengingat segalanya, semakin menusuk.... dan terasa sangat sakit... Menangis lagii..
Entah itu sebuah firasat ato apa, setelah aku merasa puas meluapkan semuanya, aku beranjak segera ambil air wudhu, aku laksanakan sholat Subuh. Setiap kali dlm doaku sehabis sholat, aku panjatkan untuk kedua orang tuaku yg telah pergi jauh, kepada keluargaku, teman2ku, dan Lia...
Doa yg aku panjatkan intinya hanyalah semoga Tuhan memberikan kebahagiaan,dan segala yg terbaik untuk orang2 yang aku cintai.

Kemudian aku berangkat ke tempat kerjaan, ikut bantu yang lainnya. Aku gk melihat Lia. Selang 10 menit kemudian aku melihatnya berlari di luar, berlari krn terlambat ikut membantu temannya. Dengan pakaian rapi dia datang, aku langsung berpikiran "pasti dia semalam baruuuu.." Ternyata benar duagaanku, ooohhh...
Kenapa aku nangis duluan sih, gk nangis setelah kejadian ini aja.? ahahaha.. lu kata sinetron.?
Well,.. hadapi saja, uda sering kok. Seperti biasa sbg sahabat yg baik aku menjadi pendengar setianya..

Dibalik kesedihan ini, terkadang aku merasa berhasil mengalihkan dr rasa ini, seolah2 aku tak merasa asakit. Aku merajut, mendengarkan musik, bercanda dgn teman2 yg lain, apapun yg bisa membuat aku mrs senang. Tapi tetap saja, aku gk akan pernah bisa memungkiri kesedihan ini.

Aku manusia... perjalananku masih panjang... aku tak mau terus menerus berlarut dalam kesedihan. Aku percaya, Tuhan punya rencana yg baik di balik semua ini.
Aku manusia... Aku petik segala hikmah dan pelajaran di balik segala peristiwa...
Aku manusia... Berusah kuat dan tabah...
Labels: 0 comments | edit post
Aji Yulianto
Untuk pertama kalinya.. aku merasakan faliin in love yg seeeedalam-dalamnya..
Aku gk pernah maksa, aku gk pernah tau, semua persaan ini datang sendiri. And who`s the girl.?
She is Lia Wiliyanti.

Setelah lebaran 2008, dia masuk sebagai anak baru di tempat kerjaku. Awal pertemuan rasanya biasa aja. Seiring waktu berjalan, entah apa yg terjadi aku dan Lia menjadi sahabat dekat. Entahlah, mungkin ahtiku yg memang sedang kosong, kesepian... aku merasakn "virus" itu merasuki jantungku.
Sebagai sahabat tentunya aku siap menjadi pendengar setia, apapun yg dia keluhkan, apapun yg dia inginkan, aku siap mendengar. Awal2 aku menjalin persahabatan, dia gk pernah cerita kalo dia uda punya cowok. Dan aku baru tau saat rasa itu mulai mengembang, dan semakin mengembang.
Seringnya dia cerita mengenai masalahnya dengan keksaihnya, aku siap membantu. Di saat2 seperti itulah, aku mulai bingung.. aku mesti gimana?
Semakin hari, semakin aku kenal cowoknya.. Dan semakin aku sadar, aku gk perlu berambisi lagi untuk mendapatkan Lia. Karena aku tau, aku gk lebih baik gk lebih sempurna dr lelaki pilihannya saat ini.
Aku berpikir, aku sahabatnya.. aku pasti akan buat dia kecewa kalo aku ungkapin semuanya.
Karena itulah, tekadku hanya satu.. membuat dia senang, bahagia, memberikan kebahagaiaan yg tulus sbg teman.
Suatu saat, dia memintaku untuk dibuatkan crosstitch. Dengan senang hati aku akan membuatkannya. Dengan ketulusan, kesabaran, dan cinta...
Tak perduli lelah, tak perduli waktu, tak perduli..
Sebuah lambang Cinta yg terinspirasi dr sebuah program reality show.
Kenapa lambang itu.? Apa maknanya? that `s my expression.. Sebuah mimpi.. Mimpi untuk menjalin sebuah hubungan yg tak terputuskan untuk selamanya.

Awalnya aku menawarkan kpd Lia, "gimana ntar aku kasih tulis nama cowok kamu sama kamu ya.?"
Dia menolak.. "nnnggg.. jangan akh, nama kamu aja, mendingan gk usah kalo ada nama dia."
Okeeeee... Aku setuju banget, aku seneng..
Memang saat itu, dan sebenernya mungkin sering Lia mengalami masalah dengan cwoknya.
Sejujurnya, mencintai Lia aku gk pernah yakin kalo aku bisa mendapatkannya. Terlihat dr sikap dia yg kadang.. mmmm.. Terlebih ya itu, balik lagi dia uda pny cowok.
Mungkin aku uda gila. Tapi, aku tetap jalani tekadku.

Seringnya aku merasa sakit, capek hati mendengar cerita soal cowoknya, dan bahkan aku uda sering menemani si pria itu ketika dia berkunjung menemui Lia.

Aku bener2 gk tau mesti gimana.. Aku uda coba berkali kali , mencoba dan mencoba untuk coba berhenti mencintai Lia. Aku tau perjalananku masih panjang, kenapa gk "udalah tinggalin aja, cari yg laen". Damn.....!! perasaan ini tetep gk bisa dibohongi. Belajar jadi munafik..? gk bisa cooooy... gk lulus aku....
Tekadku untuk memberikan yg terbaik, kebahagiaan, semakin kuat ketika aku tersadar bahwa sebagian sikap Lia... kurang baik, walaupun masih dalam batas kewajaran.
Ketika sendiri, merenung.. perasaan sakit itu sangat terasa.. sakit.. dan sangat sakit.. Aku bukannya menjadi orang yg cengeng, tapi semua ini hanyalah sebuah ekspressi, luapan.
Bukankah menangis dan berdoa lebih baik dari pada kita menyesali sesuatu dengan marah2 ato banting ini itu. And i feelin better...
Labels: 0 comments | edit post
Aji Yulianto

PDF Print E-mail
Wednesday, 22 April 2009


utama_slamet.jpgMembaca email pagi ini sempat kaget oleh email dari teman di mailinglist yang mengabarakan bahwa beliaunya ditelfon dari beberapa keluarga tentang meningkatnya aktifitas gunung Slamet terutama di sisi Ajibarang dan sekitarnya. Gunung slamet yang terlihat indah dari belakang rumah saya sekarang mulai menampakkan aktifitasnya. Kadang memang terlintas di pikiran saya gunung berapi yang masih aktif ini pada suatu saat pasti akan melakukan aktifitas alamnya, tinggal menunggu waktu dan entah kapan. Foto di sebelah saya ambil sekitar satu tahun yang lalu, April 2008 di Kembaran, Banyumas.

Dari mailinglist di cantumkan berita dari media-media utama yang tercantum di bawah ini:

TVOne

Badan Geologi Tingkatkan Status Gunung Slamet

21 Apr 2009 19:16:41

Bandung, (tvOne)

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG), Badan Geologi meningkatkan status G. Slamet, Provinsi Jawa Tengah menjadi Waspada terhitung mulai hari ini (21/4) sejak pukul 12:00 WIB. Peningkatan status ini terkait dengan meningkatnya temperatur air panas di Pandansari dan Pasepuhan.

Kepala PVG, Surono mengatakan, kondisi G. Slamet hari ini terekam secara menerus Gempa Tremor Vulkanik, dengan amplituda maksimum berkisar antara 0.5 –10 mm dan pengamatan visual terlihat asap putih tipis dengan tinggi ± 50 – 300 m. Selain itu lanjut Beliau, temperatur air panas di Pandansari dan Pasepuhan mengalami peningkatan dari hari ke hari hingga hari ini tercatat di Pandansari ± 45,7 °C dan di Pasepuhan ± 63 °C. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik G. Slamet, lanjutnya.

Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Slamet dan kami tetap berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (BPBD Provinsi dan dan Satlak PB) setempat. Apabila aktivitas G. Slamet kembali menurun atau meningkat, maka status G.Slamet dapat diturunkan atau dinaikan kembali sesuai dengan tingkat kegiatannya.

Kepala Pusat meminta kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan kegiatan pendakian serta menggunakan masker penutup hidung dan mulut jika terjadi hujan abu lebat untuk menghindari terjadinya gangguan pernafasan.

Suara Merdeka

21/04/2009 17:38 wib - Daerah Aktual- Cybernews

Aktivitas Vulkanik Gunung Slamet Meningkat

Bandung, CyberNews. Aktivitas vulkanik Gunung Api Slamet (3432 mdpl) menunjukan peningkatan. Sejak pukul 12.00 Selasa (21/4), gunung api yang terletak di lima wilayah kabupaten di Jateng itu dinaikan statusnya satu tingkat, dari semula aktif normal menjadi waspada.

Kepala Bidang Penyelidikan dan Pengawasan Gunung Api PVMBG, M Hendrasto menyatakan kenaikan itu dilandasi oleh empat parameter, baik yang direkam oleh alat seismograf maupun secara visual. Indikasi yang terekam dinilai di luar kebiasaan dan perlu mendapat perhatian.

Di antaranya frekuensi gempa permukaan yang cenderung terus meningkat. Pada Minggu lalu, gempa permukaan hanya tercatat 49 kali kejadian. Tapi sehari kemudian, jumlahnya dapat mencapai 97 kali kejadian.

Hal yang sama terjadi pada aktivitas gempa tremor, yang menandakan terjadinya pergerakan magma menuju permukaan. Kemarin pagi, amplitudo tremor maksimal berkisar antara 0,5-10 mm sempat terekam. Dari arah puncak, hembusan asap yang biasanya berbentuk tipis juga mulai menunjukan perubahan.

"Selasa pagi, asap putih tebal kecoklatan keluar dari kawah dengan ketinggian mencapai 300 meter. Selepas pukul 8.00 Wib, pengamatan secara visual tak bisa dilakukan karena tubuh gunung terhalang kabut," katanya saat dihubungi Selasa. Indikasi lain adalah suhu air panas di sekitar gunung api. Dua lokasi yang dijadikan tempat pengukuran yakni di sekitar Pemandian Guci, Slawi-Tegal menunjukan peningkatan suhu.

Pada pukul 10.30 kemarin, suhu air di Pandansari mencapai 45,7 derajat celcius sementara di Pasepuhan lebih panas lagi sekitar 63 derajat celcius. Jumat lalu, suhu di Pandasari hanya sekitar 42,2 derajat celcius dan Pasepuhan sekitar 61,6 derajat celcius. "Suhu normal di Pasepuhan sekitar 59 derajat."

Semenjak dinaikan statusnya, PVMBG terus melakukan pemantauan secara intensif. Mereka juga terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat. "Belum ada rekomendasi pengungsian. Masyarakat juga jangan terpancing isu tidak bertanggung jawab atas aktivitas Slamet," katanya.

Kepada masyarakat, dia meminta agar tidak mendekati puncak Slamet. Kawasan itu dinyatakan tertutup bagi aktivitas masyarakat. Warga juga diingatkan agar menyiapkan masker untuk menghindari dampak hujan abu lebat yang sewaktu-waktu dapat dimuntahkan oleh Slamet. "Jika terjadi hujan abu lebat, masyarakat sebaiknya menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi gangguan saluran pernapasan," tandasnya.

Gunung Api Slamet yang merupakan gunung api berbentuk kerucut, secara administratif masuk ke dalam 5 wilayah Kabupaten yaitu Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Purbalingga.

(Setiady Dwi /CN05)

*goleti.com

Aji Yulianto

PDF Print E-mail
Tuesday, 21 April 2009
Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – wafat di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Biografi
Ayah Kartini, R.M. Sosroningrat. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.
Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Makam R.A. Kartini di Bulu, Rembang.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Surat-surat
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru, dengan pembagian buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.
Pemikiran
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Buku
Habis Gelap Terbitlah Terang
Sampul buku versi Armijn Pane.
Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara.
Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi.
Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.
Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.
Buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini yang ada pada Door Duisternis Tot Licht. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.
Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.
Panggil Aku Kartini Saja
Sampul Panggil Aku Kartini Saja.
Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.
Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
Akhir tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang Kartini lewat buku Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya. Gambaran sebelumnya lebih banyak dibentuk dari kumpulan surat yang ditulis untuk Abendanon, diterbitkan dalam Door Duisternis Tot Licht.
Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi. Dalam kumpulan itu, surat-surat Kartini selalu dipotong bagian awal dan akhir. Padahal, bagian itu menunjukkan kemesraan Kartini kepada Abendanon. Banyak hal lain yang dimunculkan kembali oleh Sulastin Sutrisno.
Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903
Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
"Aku Mau ..." adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.
Kontroversi
Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.
Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.
Sumber : Wikipedia

*goleti.com
Aji Yulianto
Purwokerto Tambah Maju atau Semrawut? PDF Print E-mail
Sunday, 19 April 2009

purwokerto_kota_main_street.jpgMinggu lalu pas long weekend liburan ke Victoria sempat ketemuan teman yang sedang kuliah Master program dan mampir ke tempat tinggalnya beberapa jam. Gak taunya dimana dia tinggal ada teman yang berasal dari Gumelar yang juga sedang menyelesaikan program Master Degree-nya di Univ. of Melbourne, wah tanpa basa basi langsung ngomong ngapak ngapak lah. Beliaunya lebih tahu banyak tentang apa yang terjadi di Purwokerto karena memang bekerja di Kota Satria yang Indah ini. Ngapak ngapaknya ngalor ngidul tapi pas lagi ada temen lain yang gak ngerti basa Indonesia atau ngapak langsung deh beringgrwish ria. Tapi disini intinya bukan Melbourne atau program S2 yang sedang diambil teman teman saya. Melainkan perkembangan kota Purwokerto yang tambah semrawut ujar teman saya ini.

Dari perbincangan dengan teman dengan ngapak ngapak di Melbourne ini pasti lah membicarakan tentang kota Purwokerto. Purwokerto tambah ramai, buat sebagian kalangan menyenangkan karena banyak ramai dan 'maju'. Bertambahnya ruko ruko dan bangunan bangunan bisnis yang memang berita baik karena segi ekonomi otomatis juga meningkat, dan perdagangan juga tambah ramai. Bisa dilihat dari bertambah banyaknya pedagan kaki lima di hampir semua sudut di Purwokerto kata teman saya. "Wah Wan, siki Purwokerto tambah rame neng pedagan kaki lima. Neng ndi ora ana baen." Trus saya bilang:" Ya apik, tambah rame lan tambah sumringah sirkulasi ekonomine."

Iya bener, tapi dadi tambah semrawut ujar teman saya. Tata kota yang seharusnya sudah indah dan rapi, tapi berhubung hampir di semua trotar banyak kaki lima jadi serasa di pasar dimana mana. Teman saya menceritakan betapa semrawut dan susah diaturnya pengusaha dagang kecil di sekitar RS Margono yang mana seharusnya pasien membutuhkan ketenangan malah serasa di terminal. Malah beberapa masuk ke kamar pasien dan menawarkan dagangannya ke pasien langsung. Sudah sempat di larang dan ditertibkan, tapi ada saja cara mereka menjajakan ke pasien dengan berpura pura menjadi pengunjung yang membawa makanan untuk yang dikunjungi tapi malah menawarkan dagangan dalam buntelan tas kresek. Hah?!

Memang banyak sekali dilema yang dihadapi, pedagang kaki lima adalah cuman salah satu dari jutaan dilema yang ada di nusantara. Disisi lain kita ingin kota kita rapi dan enak untuk jalan jalan dan tidak ingin seperti Jakarta yang sudah ancur dan berantakan dengan kaki lima dan premannya. Kita tidak ingin seperti itu kan, meskipun dengan skala lebih kecil. Tapi disisi lain, kita tidak bisa memberikan solusi buat pedagang-pedagang itu jika mereka ditertibkan. Betul, karena mereka tidak ada pilihan untuk pekerjaan lain mungkin. Atau sebenarnya ada tapi tidak mau bekerja lebih keras lagi? Parahnya lagi, pedagang-pedagang itu kebanyakan berasal dari luar kota dan luar Jawa bahkan! Jadi, kalau kalau kita berfikir pedagang itu merupakan kemajuan ekonomi bagi Purwokerto atau bahkan kesemrawutan buat kota Satria ini??

*goleti.com
Aji Yulianto

14 April 2009

To see him back on the field we will have to wait till the beginning of the next season. In the meantime Momo Sissoko was at Vinovo to say hello to his team-mates.

35 days after the operation to the left foot and after some time spent in France – in Capbreton under the eyes of Professor Puig – the Franco-Mali player returned to Turin for a few days. He spoke of his conditions to Juventus Channel: «My foot is better and I am well. I can walk without crutches and hope to be on the field by the end of the season for the World Cup qualifiers with my national team».

Momo, therefore, continues with his recovery which is going well. However, it is not easy for him to see his mates on the field: «I have been out for more then a month. Life is like that but now what interests me is healing as best I can and be the usual Sissoko. Being out is never easy and I followed the progress of my team-mates. They are going through a particular moment but I am sure they will be back and have a great end to the season confirming the second place».

juventus.com

Aji Yulianto

14 April 2009

Juventus continue their preparation for the match against Inter on schedule for Saturday night at the Turin Olimpico. The bianconero had a morning training session under the keen eyes of Sports Director Alessio Secco and Momo Sissoko who returned to Vinovo after the treatment period spent in Capbreton in France.

The player from Mali and Hasan Salihamidzic, who was operated on last week, were the only two players who did not take part in today’s session. Ranieri could thus count on a practically entire squad. The bianconeri took part in individual technical exercises with control exercises combined with running and therefore concentrated on ball possession.

Amauri stayed with the group up to the 11-a-side mini-match. The Brazilian then worked alone on the field till the end of the session.


juventus.com